Minggu, 05 Agustus 2012

Pahlawan-pahlawan Asli Betawi

ini dia,contoh beberapa pahlawan asli Betawi di dalam bidangnya masing2 :

Alya Rohalia
Alya mengawali kariernya sebagai None Jakarta Barat 1994, kemudian terpilih sebagai Harapan I None Jakarta 1994. Dua tahun kemudian Alya dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 1996. Putri pasangan Rohali Sani dan Atit Tresnawati ini juga menjadi Wakil Indonesia pada ajang Miss Universe 1996 di Amerika Serikat.
Setelah tugasnya sebagai Puteri Indonesia usai, Alya mulai masuk ke dunia hiburan di Indonesia. Alya membintangi beberapa sinetron, di antaranya Meniti Cinta, Istri Impian, dan Kejar Kusnadi. Alya juga dikenal sebagai pembawa acara. Bersama pembawa acara Helmi Yahya, dirinya sukses memandu acara secara live Kuis Siapa Berani? yang ditayangkan di Indosiar.
Pada tahun 2002, Alya meraih sebuah penghargaan Panasonic Award sebagai Presenter Kuis terfavorit.
Pada Januari 2005, Alya Rohali juga sempat membawakan program religi Catatan Sergap dalam Hikmah Fajar di RCTI.
Tahun 2006 kesibukan Alya bertambah. Alya mencoba jajaki dunia tarik suara dengan menjadi produser sebuah album berjudul Alika dari seorang penyanyi cilik, Alika, yang merupakan keponakan Alya sendiri. Alya, yang juga berperan sebagai direktur 'Dignity Musik', mencoba menghadirkan musik anak-anak dalam nuansa idealisme dan hiburan. Alika menghadirkan konsep musik anak-anak yang beraliran R&B. Alika mencoba membawakan musik R&B dengan misi kualitas vokal dan permainan piano. Album Alika terdiri 12 lagu, termasuk satu lagu yang berbahasa Inggris.


Dicky Zulkarnaen                                                                                      
Dicky Zulkarnaen (bernama asli Iskandar Zulkarnaen; lahir di Jakarta, 12 Oktober 1939 – meninggal 10 Mei 1995 pada umur 55 tahun) adalah aktor Indonesia yang telah banyak membangun citra perfilman Indonesia dan pemeran film Jagoan Betawi.
Filmografi


Firman Muntaco
Firman Muntaco (lahir di Jakarta, 5 Mei 1935, meninggal di Jakarta, 10 Januari 1993), adalah maestro sastrawan Betawi.
Firman anak Betawi telah menelorkan cerpen Betawi mencapai 5000 buah, tetapi yang sempat diselamatkan oleh Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin hanya 499 cerpen.
Firman memilih dialek Betawi sebagai media ekspresinya. Dia meyakini dialek Betawi punya keunggulan dan kekuatan untuk menyampaikan ide-ide sastra. Dalam konteks ini Firman menyediakan dirinya sebagai wadah di mana dialek Betawi yang dibentuk oleh komunitasnya menemukan kekuatannya. Terbukti, dalam cerpen-cerpennya ia mahir berdialek Betawi dengan cara yang kadang-kadang luar biasa, mengagetkan, mengagumkan, dan adakalanya berkilauan.
Segi paling menarik dari Firman adalah sifat kerakyatannya. Cerpen-cerpen Firman dalam Gambang Djakarte (dua jilid, 1960), adalah ruang yang menampilkan rakyat kecil di Jakarta dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang paling mengesankan adalah kemampuan Firman menyampaikannya dalam genre yang paling sulit, yakni humor.
Buku Gambang Jakarta diterbitkan ulang tahun 2006.
  


Maudy Koesnaedi
Maudy Koesnaedi (lahir di Jakarta, 8 April 1975; umur 37 tahun) adalah seorang pemeran Indonesia. Maudy mengawali karier di dunia entertainment lewat ajang pemilihan Abang None. Ia dikenal masyarakat lewat perannya sebagai Zaenab dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Ia juga dikenal lewat sinetron Jangan Ucapkan Cinta sebagai Niken. Ia menikah dengan Erik Meijer seorang laki-laki berkebangsaan Belanda pada tahun 2002 dan dikaruniai satu orang anak, Eddy Maliq Meijer pada tahun 2007.
Bokir
H. Muhammad Bokir bin Dji'un (lahir di Cisalak Pasar, Bogor, Jawa Barat, pada 25 Desember 1925 - wafat di Jakarta, 18 Oktober 2002) adalah seorang seniman lenong Betawi. Dia terlahir dari pasangan Mak Kinang & Dji'un, serta bersaudara dengan Dalih bin Dji'un dan Ni'iih bin Dji'un.

Film

Sinetron

  • Koboi Kolot
  • Fatimah
  • Angkot Haji Imron
Zarkasih Nur
Zarkasih Nur (lahir di Ciputat, Tangerang, Jawa Barat, 21 April 1940; umur 72 tahun) adalah Menteri Negara Koperasi dan UKM pada Kabinet Persatuan Nasional. Ia meraih gelar sarjana pada tahun 1973 dari IAIN Syarif Hidayatullah dan merupakan mantan politikus dari Partai Persatuan Pembangunan. Dia juga pernah menjadi anggota DPR mewakili fraksi PPP. Dia juga salah satu pencetus percepatan Muktamar PPP dari 2008 menjadi 2007 yang akhirnya menyebabkan pemecatan dirinya dari PPP.

Benyamin
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTZOV3zEVUj0cyB066dE60e3nEau_7CXltHhTUn7kXwihelu7syGFW6WvtH9g Celetukan "muke lu jauh" atau "kingkong lu lawan" pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb. Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan mengamen keliling kampung dan hasilnya untuk biaya sekolah kakak-kakaknya. Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai "imbalan".
Penampilan Benyamin kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Benyamin disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak.
Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung, pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat - menurunkan darah seni itu dan Haji Ung (Jiung) yang juga pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda. Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat orkes kaleng.
Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng, drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan "alat musik" itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu.
Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni. Dari tujuh saudara kandungnya, Rohani (kakak pertama), Moh Noer (kedua), Otto Suprapto (ketiga), Siti Rohaya (keempat), Moenadji (kelima), Ruslan (keenam), dan Saidi (ketujuh), tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi. Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar, dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya.
SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, "Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!" Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.
Baru setelah menikah dengan Noni pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik. Bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop.



SI PITUNG

si pitungPitung adalah salah satu pendekar orang asli Indonesia berasal dari daerah Betawi yang berasal dari kampung Rawabelong Jakarta Barat. Pitung dididik oleh kedua orang tuanya berharap menjadi orang saleh taat agama. Ayahnya Bang Piun dan Ibunya Mpok Pinah menitipkan Si Pitung untuk belajar mengaji dan mempelajari bahasa Arab kepada Haji Naipin.
Setelah dewasa Si Pitung melakukan gerakan bersama teman-temannya karena ia tidak tega melihat rakyat-rakyat yang miskin. Untuk itu ia bergerilya untuk merampas dan merampok harta-harta masyarakat yang hasil rampasannya ini dibagikan kepada rakyat miskin yang memerlukannya.
Selain itu Pitung suka membela kebenaran dimana kalau bertemu dengan para perampas demi kepentingannya sendiri maka oleh Si Pitung akan dilawan dan dari semua lawannya Pitung selalu unggul.
Gerakan Pitung semakin meluas dan akhirnya kompeni Belanda yang saat itu memegang kekuasan di negeri Indonesia melakukan tindakan terhadap Si Pitung. Pemimpin polisi Belanda mengerahkan pasukannya untuk menangkap Si Pitung, namun berkali-kali serangan tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Pitung selalu lolos dan tidak mudah untuk ditangkap oleh pasukan Belanda. Ditambah lagi, Si Pitung mempunyai ilmu kebal terhadap senjata tajam dan senjata api.
Kompeni Belanda pun tidak kehilangan akal, pemimpin pasukan Belanda mencari guru Si Pitung yaitu Haji Naipin. Disandera dan ditodongkan senjata ke arah Haji Naipin agar memberikan cara melemahkan kesaktian Si Pitung. Akhirnya Haji Naipin menyerah dan memberitahu kelemahan-kelemahan Si Pitung.
Pada suatu saat, Belanda mengetahui keberadaan Si Pitung dan langsung menyergap dan menyerang secara tiba-tiba. Pitung mengadakan perlawanan, dan akhirnya Si Pitung tewas karena kompeni Belanda sudah mengetahui kelemahan Si Pitung dari gurunya Haji Naipin.

Mohammad Husni Thamrin 
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/e/e0/Mh_thamrin.jpg (lahir di Weltevreden, Batavia, 16 Februari 1894 – meninggal di Senen, Batavia, 11 Januari 1941 pada umur 46 tahun) adalah seorang politisi era Hindia Belanda yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia. Ayahnya adalah seorang Belanda dengan ibu orang Betawi. Sejak kecil ia dirawat oleh pamannya dari pihak ibu karena ayahnya meninggal, sehingga ia tidak menyandang nama Belanda.[1]
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volksraad ("Dewan Rakyat") di Hindia Belanda, mewakili kelompok Inlanders ("pribumi"). Sejak 1935 ia menjadi anggotaVolksraad melalui Parindra. Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepak bola Hindia Belanda (sekarang Indonesia), karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2000 gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepakbola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia (sekarang Jakarta).
Kematiannya penuh dengan intrik politik yang kontroversial. Tiga hari sebelum kematiannya, ia ditahan tanpa alasan jelas. Menurut laporan resmi, ia dinyatakan bunuh diri namun ada dugaan ia dibunuh oleh petugas penjara. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Di saat pemakamannya, lebih dari 10000 pelayat mengantarnya yang kemudian berdemonstrasi menuntut penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Belanda.[2]
Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta ("Proyek MHT") pada tahun 1970-an .

MURTADO
 
 

Guru Mansur: Ulama Betawi bahasa Dari Jembatan Lima

Guru Mansur, Jembatan Lima (1878-1967)
http://1.bp.blogspot.com/_uDrmgqZLcEw/TR9biNRxlRI/AAAAAAAAAEI/GZN0X-4unss/s200/guru+mansur.JPG

Guru Mansur dari Kampung Sawah, Jembatan Lima adalah seorang Guru sejati. Beliau dapat dikatakan satu generasi Guru Mugni dari kampung Kuningan. Kedua tokoh-tokoh itu pada zamannya disebut sebagai panutan orang Betawi Jakarta. Generasi Guru Mansur merupakan penerus ulama Betawi.
Guru Mansur adalah putera Imam Abdul Hamid bin Imam Muhammad bin Damiri Imam Habib bin Abdul Mukhit. Abdul Mukhit adalah Pangeran Tumenggung Tjokrodjojo Mataram. 
Pada tahun 1894, Guru Mansur berangkat ke Mekkah ketika berusia 16 tahun bersama ibunya. Beliau tinggal di Mekkah selama 4 tahun untuk menuntut ilmu. Beliau berguru kepada Tuan Guru Umar Sumbawa. Beliau juga berguru kepada Guru Mukhtar, Guru Muhyiddin, Syekh Muhammad Hayyath. Selain itu, Guru Mansur juga berguru dengan Sayyid Muhammad Hamid, Syekh Kata Yamani, Umar al Hadromy, dan Syekh Ali al-Mukri.
Sekembalinya di kampung halamannya, Guru Mansur mulai membantu ayahnya mengajar di madrasah Kampung Sawah. Sejak tahun 1907, beliau mengajar di Jamiatul Khair, Kampung Tenabang. Di sinilah beliau mulai mengenal tokoh-tokoh-tokoh Islam seperti Syekh Ahmad Syurkati dan KH Ahmad Dahlan yang juga anggota Perkumpulan Jamiatul Khair.
Guru Mansur adalah penganjur kemerdekaan Indonesia. Beliau menyerukan agar bangsa Indonesia memasang atau mengibarkan bendera merah putih. Beliau menyerukan Persatuan Umat yang terkenal slogannya, rempuk! Yang artinya musyawarah. Beliau menuntut agar hari Jum'at dinyatakan sebagai hari libur bagi umat Islam. Pada tahun 1925 tatkala masjid Cikini di Jalan Raden Saleh hendak dibongkar dan disetujui oleh Pengadilan Agama, Guru Mansur melancarkan protes, sehingga pembongkaran masjid tersebut dibatalkan.
Pada tahun 1948 tatkala kota Jakarta berada dalam kekuasaan de facto Belanda, Guru Mansur sering berurusan dengan Hoofd Biro kepolisian di Gambir Karena beliau memasang bendera merah putih di Menara Masjid Kampung Sawah. Meskipun di bawah ancaman NICA /Belanda, Guru Mansur tetap mempertahankan Sang Saka Merah Putih berkibar di menara masjid.
Guru Mansur pernah dibujuk  Belanda agar mengubah sikapnya yang konfrontatif terhadap Belanda dan sebaliknya diminta agar menuruti apa saja yang dikehendaki Belanda. Namun bujukan itu ditolak mentah-mentah. Dengan suara lantang, Guru Mansur berkata, “Saya enggak mau ngelonin kebatilan."
Beliau adalah Guru yang amat dihormati, bukan saja oleh Masyarakat Betawi tetapi juga kalangan luas.
Di masa hidupnya, Guru Mansur telah menulis 19 buku berbahasa Arab.
Guru Mansur wafat pada hari Jum'at pada tanggal 12 Mei 1967 pukul 16.40. Beliau dimakamkan di Masjid Al Auditan Mansuriah Kampung Sawah Jembatan Lima. 

Syaikh Junaedi Al-Batawi
Ulama-ulama Betawi pada abad ke 19 pasca Abdurahman Al-Mashri Al-Batawi adalah Syaikh Junaedi Al-Batawi. Menurut C. Snouck Hurgronje, di Makkah pada perempatan ketiga abad ke 19 ada “sesepuh” (nestor) para profesor Jawi yang berasal dari Betawi yang bernama Junaed yang sudah menetap selama 50 tahun. Ketika berkunjung ke Makkah-menurut Hurgronje-ia telah melakukan kajian-kajian mendalam di negeri asalnya tetapi tidak pernah kembali ke negerinya. Jika Junaed sudah tiba di Makkah 50 tahun yang lalu, maka berarti ia sudah tiba di Makkah di awal abad ke 19 M. Junaed memiliki banyak murid di antaranya adalah KH. Mujtaba bin Ahmad atau dikenal dengan Guru Mujtaba. Jika Guru Mujtaba akhirnya kembali ke Betawi pada 1904, Syaikh Junaed Al-Batawi tetap tinggal di sana. Khabarnya Junaed meninggal dunia di tanah suci akhir abad ke 19. Kendati tidak diketahui tanggal yang pasti mengenai wafatnya, Junaed telah mendidik murid-muridnya asal Betawi menjadi ulama-ulama besar. Sayang sekali sampai sekarang tidak diketahui di mana anak dan keturunan Junaed berada sekarang.

Wendra taabri thamrin
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/e/e0/Mh_thamrin.jpgMohammad Husni Thamrin (lahir di Weltevreden, Batavia, 16 Februari 1894 – meninggal di Senen, Batavia, 11 Januari 1941 pada umur 46 tahun) adalah seorang politisi era Hindia Belanda yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia. Ayahnya adalah seorang Belanda dengan ibu orang Betawi. Sejak kecil ia dirawat oleh pamannya dari pihak ibu karena ayahnya meninggal, sehingga ia tidak menyandang nama Belanda.[1]
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volksraad ("Dewan Rakyat") di Hindia Belanda, mewakili kelompok Inlanders ("pribumi"). Sejak 1935 ia menjadi anggota Volksraad melalui Parindra. Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepakbola Hindia Belanda (sekarang Indonesia), karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2000 Gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepakbola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia (sekarang Jakarta).
Kematiannya penuh dengan intrik politik yang kontroversial. Tiga hari sebelum kematiannya, ia ditahan tanpa alasan jelas. Menurut laporan resmi, ia dinyatakan bunuh diri namun ada dugaan ia dibunuh oleh petugas penjara. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Di saat pemakamannya, lebih dari 10000 pelayat mengantarnya yang kemudian berdemonstrasi menuntuk penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Belanda.[2]
Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta ("Proyek MHT") pada tahun 1970-an .


1.    Sayyid usman bin yahya

Di Jakarta pada pertengahan abad 18 muncul seoranghabaib karismatik. Ia adalah Habib Usman bin Yahya, yang pernah menjadi mufti Batavia di zaman Belanda.
Para habib, khususnya ulamanya, sejak ratusan tahun punya hubungan akrab dengan para ulama, kiai, santri, dan ustadz asli Betawi. Sejak datang dari Hadramaut pada abad ke-18, dan puncaknya pada akhir abad ke-19, mereka mendapat tempat yang baik di hati para ulama Betawi. Bahkan ada yang mengatakan, kehadiran mereka ibarat siraman darah segar bagi perkembangan Islam di tanah air.
Salah satu saksi bisu atas kehadiran para ulama habaib itu ialah Kampung Pekojan, tidak jauh dari China Town di Glodok, Jakarta Barat. Sampai 1950-an, mayoritas warga Pekojan terdiri dari keturunan Arab. Tapi belakangan, juga sampai saat ini, keturunan Arab di Pekojan menjadi minoritas, sebab sebagian besar hijrah ke kawasan selatan, seperti Tanah Abang, Jati Petamburan, Jatinegara, dan kini Condet.
   
2.    Haji syafi i

kyai haaji abdullah syafiie KH Abdullah SyafiiSyahdan, dengan kapal layar, pada pertengahan abad ke-19 (1834), Syaikh Junaid, seorang ulama Betawi, menuju Mekah. Di sana ia bermukm dengan menggunakan nama al-Betawi. Kefasihannya amat termashur karena beliau dipercaya menjadi imam Masjidil Haram.

Syaikh Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi’ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram. Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syaikh kelahiran Pekojan, Jakarta Barat, ini.
Syaikh Junaid mempunyai dua putera dan puteri. Salah satu puterinya menikah dengan Abdullah al Misri, seorang ulama dari Mesir, yang makamnya terdapat di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Seorang puteri lainnya menikah dengan Imam Mujitaba. Sedangkan kedua puteranya, Syaikh Junaid As’ad dan Arsyad, menjadi pelanjut ayahnya mengajar di Masjidil Haram. Syeh Junaid wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun.
Di antara murid Syeh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syaikh Nawawi al Bantani, keturunan pendiri kerajaan Islam Banten, Maulana Hasanuddin (putera Syarif Hidayatullah). Karenanya, setiap haul Syaikh Nawawi, selalu dibacakan fatihah untuk arwah Syaikh Junaid.
Imam Mujitaba, yang menetap di Mekah, menikah dengan putri Syaikh Junaid. Pasangan ini menurunkan Guru Marzuki, tokoh ulama Betawi dari Cipinang Muara, Jakarta Timur. Karena alimnya, guru Mujitaba diberi gelar waliyullah oleh masyarakat Islam di tanah suci. Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, Guru Mujitaba satu angkatan dengan mukimin Indonesia lainnya seperti Syaikh Nawawi al Bantani dan Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi.
Sedangkan putera almarhum guru Marzuki, yang hingga kini memiliki perguruan di Rawabunga, Jakarta Timur, mendapat gelar birulwalidain karena begitu berhidmatnya kepada kedua orang tuanya.
Guru Marzuki memiliki sejumlah murid yang kemudian menjadi ulama terkemuka di Indonesia. Salah satunya adalah KH Abdullah Syafi’ie, yang mendirikan dan mengembangkan Perguruan Assyafiiyah dengan sekolah mulai dari TK sampai perguruan tinggi.
KH Abdullah Sjafi’ie (wafat 3/9-1985) bersama putera-puterinuya menangani 63 lembaga pendidikan Islam. Sedangkan masjid Al-Barkah di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan, yang dibangun pada 1933 saat kyai berusia 23 tahun, merupakan masjid yang megah hingga sekarang.

3.    Kwee kek beng

Kwee Kek Beng Seorang sastrawan Betawi peranakan Tionghoa, wartawan kenamaan dan pemimpin redaksi surat kabar Sin Po (Jakarta). Tulisannya banyak mengagungkan nasionalisme negeri leluhurnya, meskipun demikian karya-karyanya yang sangat khas menggambarkan kehidupan masyarakat Betawi. Namun demikian ia bisa akrab bergaul dengan tokoh pergerakan nasional Indonesia. Kwee Ke Beng lahir di Jakarta, 16 Nopember 1900 dan meninggal 31 Mei 1975. Ia seringkali menggunakan nama samaran "Anak Jakarta atau Garem".
Kek Beng memulai menulis sejak ia duduk di HCK (Hollands Chinese Kweek school) di Jatinegara, Jakarta. Setelah lulus (1922) ia menjadi guru di Bogor, tetapi tak lama kemudian ia pindah ke surat kabar Bin Seng dan kemudian ke Sin Po. Kariernya terus menanjak sampai ia menjadi pemimpin redaksi surat kabar Sin Po yang pernah menolak tulisannya.
Kek Beng termasuk wartawan peranakan yang dicari-cari Jepang ketika negara ini menduduki Indonesia. Namun ia berhasil menyembunyikan diri di Bandung. Kek Beng akrab bergaul dengan para pemimpin pergerakan nasional terutama dari kalangan Partai Nasional Indonesia. Sebagai pemimpin redaksi ia mengijinkan pamuatan lagu Indonesia Raya dalam surat kabar Sin Po, karena pengarang lagu tersebut (W.R. Supratman) juga wartawan di surat kabar itu. Kek Beng menulis cukup banyak buku, namun yang terkenal adalah Doea Poeloe Lima Taon Sebagai Wartawan (1948) tentang pengalamannya sebagai wartawan. Tulisan-tulisan Kwee Kek Beng mirip sketsa, dan sangat kaya dengan ungkapan-ungkapan yang hidup dalam masyarakat Betawi. Di kalangan sastrawan atau wartawan sejamannya, ia dikenal sebagai pelopor "pojok", sebuah rubrik di surat kabar atau majalah yang berisi kritik sosial atas berbagai persoalan aktual yang terjadi di tengah masyarakat. Ia sangat terpelajar. Menulis 6 judul buku. Ia wartawan yang sangat terkenal. Kritik-kritiknya disegani karena ilmiah.

 Haji abdul manaf
Memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei, perlu kiranya saya mengulas sosok KH Abdul Manaf Mukhayyar, tokoh pendidikan dari tanah Betawi, yang telah berhasil membangun salah satu pondok pesantren terkemuka di Jakarta, bahkan tersohor di seluruh nusantara hingga Asia Tenggara, yaitu Pondok Pesantren Darunnajah, yang beralamatkan di Jl Ulujami Raya No 86 Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
KH Abdul Manaf Mukhayyar adalah wakif, yaitu orang yang telah mewakafkan tanahnya untuk lokasi pembangunan Darunnajah. Ia juga membelanjakan hartanya untuk menggaji guru, membelanjakan uangnya untuk membangun madrasah, dan menutup biaya operasional pada saat awal mula pendirian pesantren ini. Abdul Manaf juga penggagas ide pendirian lembaga pendidikan yang mengajarkan agama Islam dan mencetak kader-kader ulama.
Pada awal 2012, Yayasan Darunnajah sudah memiliki 14 pesantren di seluruh Indonesia dengan ribuan santri yang menuntut ilmu agama Islam di dalamnya. Kini, dikelola oleh KH Mahrus Amin, menantu dari KH Abdul Manaf Mukhayyar.
KH Abdul Manaf Mukhayyar lahir di kampung Kebon Kelapa, Palmerah, pada Kamis 29 Juni 1922 dari pasangan Haji Mukhayyar dan Hj Hamidah. Ia adalah anak keempat dari 11 bersaudara. Sejak kecil, H Mukhayyar (ayah KH Abdul Manaf Mukhayyar) sudah menanamkan kebiasaan beribadah bagi anak-anaknya, termasuk kepada Abdul Manaf. Saat bulan puasa, anak-anaknya diajak ke masjid untuk shalat tarawih. Ayah H Mukhayyar, H Bukhori, juga ikut membimbing cucu-cucunya.
Untuk pendidikan awalnya, ia dikirim oleh ayahnya untuk belajar di sekolah Belanda dan sore harinya belajar mengaji ke madrasah. Pada waktu itu, hanya orang-orang yang secara ekonomi mampu atau memiliki kedudukan di pemerintahan saja yang bisa belajar di sekolah Belanda. Abdul Manaf kecil termasuk beruntung karena H Mukhayyar termasuk orang kaya. Ia memasukkan Abdul Manaf ke volksschool (sekolah dasar) selama tiga tahun di Pengembangan Palmerah pada usia 10 tahun. Dari volksschool, Abdul Manaf melanjutkan ke vervolegschool (sekolah lanjutan) selama dua tahun.
Selain belajar di sekolah, sore hari selepas pulang dari vervolegschool, Abdul Manaf muda mengikuti pengajian di rumah Haji Sidik di Bendungan Hilir.
Setamat dari vervolegschool, Abdul Manaf meminta izin kepada orang tuanya untuk belajar di Jamiatul Khair yang terletak di daerah Karet, Tanah Abang. Ini adalah lembaga pendidikan madrasah yang sangat maju pada masanya. Murid-murid di madrasah ini diajar bahasa Arab dan guru-gurunya kebanyakan dari Timur Tengah. Pada saat itu, Jamiatul Khair termasuk sekolah terpandang karena para muridnya umumnya dari kalangan orang-orang Arab yang kaya. Abdul Manaf adalah pengecualian. Meskipun ia bukan keturunan Arab, ia diterima dan belajar di sekolah yang pada kemudian hari menjadi inspirasinya untuk mendirikan Pesantren Modern Darunnajah.
Ia juga sempat belajar bahasa Belanda pada 1942 untuk menambah pengetahuannya, tapi hal itu hanya berlangsung selama dua bulan karena penggunaan bahasa Belanda dilarang akibat datangnya penjajah Jepang di Tanah Air. Bahasa Belanda tidak diajarkan di Jamiatul Khair. Sebagai gantinya, bahasa Inggris diajarkan sebagai pelajaran wajib. Sebenarnya, setelah ibtidaiyah, masih ada tingkat tsanawiyah yang ditempuh selama tiga tahun. Lulusan tsanawiyah Jamiat Khair bisa melanjutkan ke Makkah atau ke Mesir.
Namun, Abdul Manaf tak mengambilnya. Datangnya penjajahan Jepang dan kesulitan ekonomi agaknya menjadi alasannya kala itu.
Pada 1939, saat menempuh studi di Jamiat Khair inilah, muncul ide dalam diri Abdul Manaf untuk mendirikan madrasah dengan sistem modern. Ide ini diwujudkan dengan mendirikan Madrasah Islamiyah pada 1942 dengan sistem pengajaran modern mencontoh Jamiatul Khair. Saat itu, Abdul Manaf belum mengenal pola pondok pesantren. Selain madrasah untuk mengajarkan agama, Abdul Manaf juga memiliki niat mendirikan sekolah gratis untuk orang fakir.
Niat mulia mendirikan sekolah juga tak lepas dari pesan guru-gurunya di Jamiatul Khair yang selalu diingatnya. Pesan itu antara lain agar Abdul Manaf menjadi orang jujur, tidak mengesampingkan pendidikan, selalu shalat berjamaah, dan tidak melupakan kaum fakir miskin. Konon, saat masih duduk di bangku Jamiatul Khair, Abdul Manaf pernah menulis kata-kata dalam bahasa Arab pada salah satu kitab dengan bunyi idza sirtu ghaniyyan aftah madrasah lil fuqara' majjanan. Artinya, kalau saya jadi orang kaya, saya akan membuka sekolah gratis untuk anakanak yang tidak mampu. Inilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta sekarang yang dipimpin oleh menantunya, KH Mahrus Amin, di bawah naungan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI) yang ia dirikan bersama teman-temannya.
Ia juga bukan hanya perintis Pondok Pesantren Darunnajah, melainkan juga seorang pejuang. Majalah Pesan pada 1989 memuat profil Abdul Manaf dalam salah satu artikelnya. Disebutkan bahwa pada masa revolusi fisik, Abdul Manaf dibantu ayahnya membuka dapur umum untuk keperluan para pejuang. Dia juga turut memanggul senjata di sekitar wilayah Rawabelong, Kebayoran Lama, dan Palmerah.
Pada 21 September 2005, tokoh pendidikan Islam dari Betawi ini meninggalkan kita semua pada umur 83 tahun, mewariskan sebuah lembaga pendidikan Islam terkemuka yang menjadi pendidikan generasi umat Islam juga untuk kaum Betawi.

   Al habib husein bin abu bakar alydrus
Beliau lahir di Migrab, dekat Hazam, Hadramaut, Datang di Betawi sekitar tahun 1746 M. Berdasarkan cerita, bahwa beliau wafat di Luar Batang, Betawi tanggal 24 Juni 1756 M. bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah dalam usia lebih dari 30 tahun ( dibawah 40 tahun ). Jadi diduga sewaktu tiba di Betawi berumur 20 tahun. Habib Husein bin Abubakar Alaydrus memperoleh ilmu tanpa belajar atau dalam istilah Arabnya “ Ilmu Wahbi “ , yaitu pemberian dari Allah tanpa belajar dahulu. Silsilah beliau : Habib Husein bin Abubakar bin Abdullah bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husein bin Abdullah bin Abubakar Al-Sakran bin Abdurrahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath.
Habib Husein yang lebih terkenal dengan sebutan Habib Keramat Luar Batang, mempunyai perilaku “ Aulia “ (para wali) yang di mata umum seperti ganjil. Seperti keganjilan yang dilakukan beliau, adalah :
Habib Husein tiba di Luar Batang, daerah Pasar Ikan, Jakarta, yang merupakan benteng pertahanan Belanda di Jakarta. Kapal layar yang ditumpangi Habib Husein terdampat didaerah ini, padahal daerah ini tidak boleh dikunjungi orang, maka Habib Husein dan rombongan diusir dengan digiring keluar dari teluk Jakarta. Tidak beberapa lama kemudian Habib Husein dengan sebuah sekoci terapung-apung dan terdampar kembali di daerah yang dilarang oleh Belanda. Kemudian seorang Betawi membawa Habib Husein dengan menyembunyikannya. Orang Betawi ini pun berguru kepada Habib Husein. Habib Husein membangun Masjid Luar Batang yang masih berdiri hingga sekarang. Orang Betawi ini bernama Haji Abdul Kadir. Makamnya di samping makam Habib Husein yang terletak di samping Masjid Luar Batang.
Habib Husein sering tidak patuh pada Belanda. Sekali Waktu beliau tidak mematuhi larangannya, kemudian ditangkap Belanda dan di penjara di Glodok. Di Tahanan ini Habib Husein kalau siang dia ada di sel, tetapi kalau malam menghilang entah kemana. Sehingga penjaga tahanan (sipir penjara) menjadi takut oleh kejadian ini. Kemudian Habib Husein disuruh pulang, tetapi beliau tidak menghiraukan alias tidak mau pulang, maka Habib Husein dibiarkan saja. Suatu Waktu beliau sendiri yang mau pergi dari penjara.

itu hanya beberapa contoh dari sekian banyaknya pahlawan yang berasal dari Betawi.insyaallah,akan kami tambahkan lagi.wassalam.

    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar